Kualitas Ta'aruf Menentukan Kualitas Pernikahan
Bilangnya sih Ta'aruf tapi Ujung-Ujungnya ...
Saat aku menulis postingan pertamaku untuk tahun ini, aku sedang duduk diantara kerumunan perempuan-perempuan hebat yang sedang melakukan pekerjaan sama denganku. aku masih bingung apa yang harus aku bagi. hanya lihat sekeliling diantara mereka yang sibuk menarikan jari-jari mereka. entah apa yang mereka tulis.
Bukan sekedar iseng menulis. kita di sini sedang mengikuti kuliah ICT yang diadakan asrama UNNES, Semarang. saat aku tak ada inspirasi akhirnya aku memutuskan untuk membuka Facebook. sudah lama aku tak membuka akunku semenjak aku pulang dari masa pengbdianku.
Dalam Facebook aku melihat ada beberapa temanku yang sedang aktif. Ada salah satu teman lamaku saat aku masih kuliah. Akhirnya aku putuskan untuk mengajak dia ngobrol santai. Aku curhat kalau aku sedang kuliah ICT dan diminta dosen buat posting artikel pertama. Akupun cerita kalau aku sedang mencari ide untuk posting pertamaku. Tanpa aku sangka dia menawarkan kisah cintanya sebagai bahan artikelku. Dan aku menyetujuinya.
Bagiku, dia adalah perempuan yang tegar. Aku cukup tahu bagaimana dia selama kami kuliah bersama. Aku cukup kenal dekat dengan keluarga mereka. Sangat beruntung dia memiliki keluarga yang hangat dan ramah. Sangat ramah untuk aku yang saat itu masih menjadi teman biasanya.Masih teringat jelas saat aku sudah sudah lulus dari kuliah dan main ke kota Solo. Keluarga dia sangat hangat menyambutku. Mempersilahkan aku tinggal di sana dan menyuguhkanku makanan layaknya keluarga mereka sendiri. Sangat kangen suasana dulu. Sangat kangen dengan mereka.
Kembali ke kisah temanku. Panggil saja dia Gadiezt. Dia sendiri yang meminta namanya disamarkan. Aku dan dia dari dulu selalu berlomba-lomba dalam hal masa depan dan pekerjaan. Dimana kami kerja, berapa gaji kami, dan siapa calon suami kami. Singkatnya tahun kemarin saat aku masih di Aceh, dia menghubungi aku dan memberi kabar atas pernikahnnya. Sungguh aku bahagia mendengar kabar gembira darinya. Ingin sekali aku datang dan memberikan selamat untuknya. Tapi karena keadaanku yang mengharuskan aku untuk tetap tinggal di desa pengbdianku, aku hanya bisa memberikan selamat lewat telepon.
Tak lama dia menikah, sekitar pertengahan bulan Januari kemarin, aku mendengar kabar yang mengejutkan dari dia. Dia ingin bercerai. Apa yang membuat dia berkeinginan bercerai dari suaminya? masalah apa yang membuat dia memutuskan hal yang dibenci oleh Allah? usia pernikahannya yang masih dalam hitungan jari. Perjalanan pertemuannya yang melalui jalan Ta'aruf. sangat mmebuatku tidak mengerti, awalnya. To be Continue ...
di tulis di Gedung Lab MTK UNNES
23/04/2016
No comments:
Post a Comment