Saturday, April 23, 2016

Kualitas Ta'aruf Menentukan Kualitas Pernikahan

Bilangnya sih Ta'aruf tapi Ujung-Ujungnya ...


Saat aku menulis postingan pertamaku untuk tahun ini, aku sedang duduk diantara kerumunan perempuan-perempuan hebat yang sedang melakukan pekerjaan sama denganku. aku masih bingung apa yang harus aku bagi. hanya lihat sekeliling diantara mereka yang sibuk menarikan jari-jari mereka. entah apa yang mereka tulis.

Bukan sekedar iseng menulis. kita di sini sedang mengikuti kuliah ICT yang diadakan asrama UNNES, Semarang. saat aku tak ada inspirasi akhirnya aku memutuskan untuk membuka Facebook. sudah lama aku tak membuka akunku semenjak aku pulang dari masa pengbdianku.

Dalam Facebook aku melihat ada beberapa temanku yang sedang aktif. Ada salah satu teman lamaku saat aku masih kuliah. Akhirnya aku putuskan untuk mengajak dia ngobrol santai. Aku curhat kalau aku sedang kuliah ICT dan diminta dosen buat posting artikel pertama. Akupun cerita kalau aku sedang mencari ide untuk posting pertamaku. Tanpa aku sangka dia menawarkan kisah cintanya sebagai bahan artikelku. Dan aku menyetujuinya.

Bagiku, dia adalah perempuan yang tegar. Aku cukup tahu bagaimana dia selama kami kuliah bersama. Aku cukup kenal dekat dengan keluarga mereka. Sangat beruntung dia memiliki keluarga yang hangat dan ramah. Sangat ramah untuk aku yang saat itu masih menjadi teman biasanya.Masih teringat jelas saat aku sudah sudah lulus dari kuliah dan main ke kota Solo. Keluarga dia sangat hangat menyambutku. Mempersilahkan aku tinggal di sana dan menyuguhkanku makanan layaknya keluarga mereka sendiri. Sangat kangen suasana dulu. Sangat kangen dengan mereka.

Saturday, July 20, 2013

Waktu Itu



persis malam ini kita dulu bertemu
saat malam dipenuhi oleh hujan
tetesan air yang mengenalkan kita
saling mendekat, saling mendekap

persis malam ini kita dulu saling memandang
malam yang memudarkan pesona pelangi di kala hujan
mengusir bintang yang setia mengerlipkan malam
meramaikan angkasa di kala sang bulan butuh kawan

persis malam ini kita dulu duduk sambil tertawa riang
saling memuji cinta yang sedang membelenggu kita
menahan tawa betapa gelinya memahat rasa
mengikat pandang dengan sekedip pesona

persis malam ini kita dulu menukar senyum
menyelipkan kenangan yang dalam di lubuk hati
mencuri waktu untuk sekedar bercanda
di sela-sela sibuknya hari yang menjerat kita

aawww ...
aku tertampar oleh angin malam
terbangun dari lamunan panjang yang telah menyita kenangan
terduduk dan terdiam di teras rumah
mengajakku menawar waktu yang semakin meronta ingin pulang

aku kalah ...
aku menyerah ...
biar saja waktu yang menyimpan seluruh kisah malam itu
menggenggam seluruh hasrat dan segala rasa tanpa meninggalkan jejaknya
biar aku saja yang tetap di sini
menunggu senja datang tanpa harus menawar waktu